Mukomuko – Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, tengah dilanda krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) yang semakin parah. Kelangkaan BBM, khususnya Pertalite, telah menyebabkan antrean mengular di sejumlah SPBU, memaksa warga untuk berjam-jam menunggu demi mendapatkan setetes bahan bakar. Kondisi ini tidak hanya memicu frustrasi, tetapi juga mengancam kelumpuhan aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat.
Keluhan datang dari berbagai penjuru Mukomuko. Salah seorang warga dari Kecamatan XIV Koto mengungkapkan bahwa kelangkaan BBM tidak hanya terjadi pada Pertalite, tetapi juga pada Pertamax, membuat mobilitas warga semakin terbatas.
“Mulai dari Pertalite hingga Pertamax susah didapat. Kelangkaan ini benar-benar membuat kami kesulitan. Bagaimana kami bisa bekerja, berdagang, atau sekadar mengantar anak sekolah kalau BBM saja tidak ada?” keluhnya dengan nada putus asa.
Kelangkaan BBM ini telah berlangsung sejak Jumat, 7 November 2025, dan hingga Sabtu, 8 November 2025, belum ada tanda-tanda akan berakhir. Warga menduga, penyebab utama kelangkaan ini adalah distribusi yang tidak merata dan kurangnya pengawasan terhadap penyaluran BBM di tingkat SPBU.
Kondisi ini memicu kemarahan warga. Mereka menuntut Pertamina untuk segera mengambil tindakan tegas dan mengatasi kelangkaan BBM yang semakin meresahkan ini. Warga juga meminta pemerintah daerah untuk turun tangan dan memastikan distribusi BBM berjalan lancar dan merata.
“Kami tidak ingin terus-menerus menjadi korban kelangkaan BBM. Pertamina dan pemerintah daerah harus bertanggung jawab dan segera mencari solusi agar masalah ini tidak terulang kembali,” ujar seorang warga dengan nada geram.
Kelangkaan BBM ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah dan Pertamina. Mereka harus segera berbenah dan memastikan ketersediaan BBM yang stabil dan terjangkau bagi seluruh masyarakat Indonesia, khususnya di daerah-daerah terpencil seperti Mukomuko. Jika tidak, bukan tidak mungkin krisis ini akan memicu gejolak sosial yang lebih besar.
234 total views, 2 views today







