Mesuji, Lampung – Minggu 20 Juli 2025 merupakan momen puncak Peringatan HUT Desa Hadi Mulyo Kecamatan Way Serdang ke 40 Tahun. Puncak peringatan HUT 40 Desa Hadi Mulyo di tandai dengan Pagelaran Wayang Kulit semalam Suntuk yang di gelar di Alun alun Desa Hadi Mulyo.
Kepala Desa Hadi Mulyo, Karyanto mengatakan bahwa HUT Ke – 40 Desa Hadi Mulyo dirangkai dengan berbagai kegiatan mulai dari kegiatan Bola Voly dan kegiatan lain seperti pengajian akbar yang menghadirkan Penceramah, Ustad Yudo, dari Ngawi Jawa Timur dan puncaknya malam ini kami gelar wayang Kulit semalam suntuk dengan Dalang Kondang Ki.Anom Dwijo Kangko,S.Sn dari Karang Anyar Jawa Tengah dengan menampilkan cerita Parikesit Jumeneng Ratu.
Adapun harapanya adalah agar desa hadi Mulyo menjadi Desa yang maju makmur dan Gemah Ripah loh jinawi toto tentrem karto raharjo baldatun toyibatun warobun ghofur, bersatu masyarakatnya dan Guyub Rukun. Tegas Karyanto
Pada Kesempatan yang sama hadir perwakilan Puja kesuma Kabupaten Mesuji yang di pimpin oleh Sekretaris Pujakesuma kabupaten mesuji Mewakili Ketua Puja Kesuma M.Sururi. dalam sambutanya Sururi mengatakan bahwa Pujakesuma adalah paguyuban Keluarga besar Putra Jawa Kelahiran Sumatera yang merupakan suatu wadah berkumpulnya semua seni yang ada di mesuji oleh karena itu kami sangat mengapresiasi pemdes Hadi Mulyo yang masih melestarikan Budaya Adiluhung yakni wayang Kulit. Apalagi momen HUT Ke 40 ini di rangkai dengan berbagai kegiatan dan puncaknya di gelar pagelaran wayang kulit dg lakon Parikesit Jumeneng Ratu.
Sururi menambahkan bahwa sebagai bentuk pelestarian budaya kami dari Pujakesuma hanya bisa memberikan Piagam Penghargaan Kepada Kepala Desa Hadi Mulyo, dan Ki.Anom Dwijo Kangko,S.Sn atas dedikasinya melestarikan seni dan budaya di Kabupaten Mesuji.Tandasnya.
Sementara, ditanya soal intisari Lakon Parikesit Jumeneng Ratu M.Sururi Menjelaskan Sebagai Berikut.
Lakon “Parikesit Jumeneng Ratu” dalam seni wayang kulit mengisahkan tentang pengangkatan Parikesit, cucu Arjuna, sebagai raja Hastinapura setelah para Pandawa, termasuk Yudistira, memutuskan untuk turun tahta dan melakukan perjalanan suci. Lakon ini menyoroti transisi kepemimpinan dari generasi tua ke generasi muda, serta pentingnya regenerasi dan ajaran moral dalam kepemimpinan.
Setelah perang besar Bharatayuddha, para Pandawa, yang dipimpin oleh Yudistira, berhasil memenangkan pertempuran melawan Kurawa. Namun, kemenangan itu juga membawa kesedihan karena banyak kesatria gugur, termasuk Abimanyu, ayah Parikesit. Parikesit, yang masih dalam kandungan, diselamatkan dari kematian oleh Kresna saat senjata milik Aswatama diarahkan ke janin Utari.
Setelah 15 tahun memerintah, Yudistira dan saudara-saudaranya merasa sudah waktunya untuk menyerahkan tampuk kekuasaan kepada generasi penerus. Mereka memutuskan untuk menjalani tapa brata menuju puncak Mahameru, meninggalkan kerajaan Hastinapura. Parikesit, cucu Abimanyu, dinobatkan sebagai raja baru dalam upacara yang meriah.
Parikesit dikenal sebagai raja yang adil, bijaksana, dan mampu menjaga warisan Pandawa. Di bawah pemerintahannya, Hastinapura kembali menjadi kerajaan yang makmur dan dihormati. Lakon ini mengajarkan nilai-nilai tanggung jawab, keberanian, serta pentingnya persatuan dan regenerasi dalam kepemimpinan. (MM)
72 total views, 1 views today







