Mukomuko, Bengkulu – Sebuah kisah pilu yang sangat memilukan dialami oleh Amik Marlinda Wati, seorang wanita yang telah lama disia-siakan oleh suaminya, SAR. Amik, yang merupakan warga Dusun Baru Pelokan, merasa sangat terluka dan hancur karena suaminya tidak pernah memedulikannya lagi, baik lahir maupun batin. Bahkan, SAR telah meninggalkan Amik begitu saja tanpa ada komunikasi yang jelas, meninggalkan Amik dalam kesedihan yang mendalam.
Dayat (Dusun Baru Pelokan), adik Amik yang penuh kasih sayang, merasa prihatin dengan keadaan kakaknya yang sangat menderita. Ia pun mengambil inisiatif untuk menemui SAR dan meminta pertanggungjawaban atas perlakuan suaminya terhadap Amik. Namun, ketika Dayat tiba di rumah SAR, ia tidak menemukan suaminya di sana, sehingga membuatnya semakin khawatir dan penasaran.
Dayat kemudian memutuskan untuk menemui Kepala Desa Talang Berantai, M. Jafri, untuk meminta bantuan dan solusi atas permasalahan rumah tangga kakaknya. M. Jafri berjanji untuk memfasilitasi penyelesaian permasalahan Amik dengan SAR, dan bahkan berjanji untuk membantu Amik mendapatkan kartu kuning agar dapat mengajukan gugatan cerai. Janji ini memberikan harapan baru bagi Dayat dan Amik.
Namun, apa yang terjadi kemudian? Dayat merasa sangat kecewa dan tertipu ketika M. Jafri tidak memenuhi janjinya. Bahkan, Dayat mengalami pertengkaran dan caci maki dari M. Jafri ketika mempertanyakan janji tersebut.
“Apa seperti ini perilaku oknum kades tersebut? Tidak menunjukkan contoh yang baik selaku pemimpin pemerintah desa,” kata Dayat dengan nada kecewa dan kesal.
Ketika dikonfirmasi oleh awak media, M. Jafri mengakui bahwa ia pernah menjembatani permasalahan Amik dengan SAR. Namun, ia menyatakan bahwa tidak mungkin ia bisa memaksakan SAR untuk melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.
“Saya sudah menyarankan kepada Amik untuk mengajukan gugatan cerai kepada SAR melalui pengadilan agama. Tidak seharusnya menunggu SAR jika betul tidak cocok dan sejalan lagi rumah tangga kalian,” kata M. Jafri dengan nada yang santai.
M. Jafri juga menjelaskan bahwa ia terlontar kata-kata keras dan memaki Dayat (Dusun Baru Pelokan) karena sudah mendapat tekanan dan tidak sopan dalam berbicara.
“Saya tidak ada niatan tidak baik dan saya menunjukkan tanggung jawab saya sebagai pemerintah desa? Saya sudah ikut mengantar Amik dan SAR ke Dusun Baru Pelokan Mukomuko pada saat pernikahan mereka,” kata M. Jafri dengan nada yang defensif.
Kisah pilu Amik Marlinda Wati ini menjadi perhatian kita semua. Apakah permasalahan rumah tangga seperti ini dapat diselesaikan dengan baik oleh pemerintah desa? Ataukah permasalahan ini akan terus berlarut-larut tanpa solusi yang jelas? Kita tunggu saja bagaimana kelanjutan dari kisah ini dan apakah keadilan akan ditegakkan bagi Amik Marlinda Wati.(Laporan: Hidayat Saleh)
75 total views, 2 views today







