Surabaya – Seorang prajurit TNI Angkatan Laut adalah individu yang mengikat diri dengan komitmen untuk menjaga kedaulatan negaranya. Tidaklah mudah untuk menjadi seorang prajurit dan menjalani kehidupan sebagai seorang prajurit TNI Angkatan Laut dengan luas wilayah kelautan Indonesia sangat besar, mencakup sekitar 6,4 juta km², yang terdiri dari perairan pedalaman, perairan kepulauan, laut teritorial (12 mil), Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 3 juta km², dan Landas Kontinen sekitar 2,8 juta km², menjadikan lautan Indonesia lebih dari dua kali lipat luas daratannya. Ini menjadikan Indonesia negara kepulauan terbesar dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia.
Sebagaimana yang disampaikan oleh Lettu Laut (KH/W) Alma Shinta Carissa, S.Psi. dalam acara Pengarahan Personil di Jajaran Puspenerbal oleh Dirpers Puspenerbal.

Selain Perwira, Bintara, Tamtama, PNS hingga satker Penerbangan wilayah Surabaya, acara ini juga diikuti satuan kerja di jajaran Puspenerbal di seluruh Indonesia melalui jaringan video converence dengan tema Pencegahan & Bahayanya Narkoba, Asusila, Kasus Kekerasan/penganiayaan di kalangan prajurit Puspenerbal dari segi Hukum, Psikologi, dan Bintal yang bertempat di Gedung Brahmastra Lanudal Juanda Puspenerbal, dimulai sejak pukul 08.00 – 10.00 pagi tadi (18-12-2025). Dalam kegiatan tersebut dihadiri Wadan Puspenerbal, Laksma TNI Catur Nur Ardiantoro, turut hadir
Inspektur Puspenerbal, Para pejabat utama dan Kasatker dan seluruh jajaran personil.
Dalam keterangannya melalui telepon seluler, Lettu ALMA sempat menambahkan, bahwa seorang calon prajurit TNI Angkatan Laut akan dididik untuk mengubah cara berpikir, bersikap, dan bertingkah laku. Dari yang semula rakyat sipil menjadi seorang prajurit TNI Angkatan Laut yang disiplin, mahir bertempur, jago tembak, menguasai beladiri dan memiliki stamina yang prima serta militan, bermental baja dan dapat diandalkan dalam berbagai medan pertempuran, baik pertempuran dilautan, udara maupun kota yang tentunya semua itu hanya dapat dilakukan dengan berlandaskan stamina dan mental yang baik.
Masih dalam keterangannya, bukan hal yang mudah dan sederhana untuk menjalani kehidupan sebagai prajurit TNI Angkatan Laut. Sebagai contoh, perubahan pola hidup seperti latihan fisik yang terus menerus dilatih, kehidupan yang ketat dengan aturan ataupun komunikasi satu arah dimana perintah atasan adalah utama. Semua terdapat jenjang-jenjang aturan yang harus dilewati yang telah ditentukan oleh aturan yang telah ditetapkan, “kawin dengan aturan” adalah salah satu tantangan dari sekian banyak tantangan lain yang harus dijalani sebagai seorang prajurit TNI Angkatan Laut dengan nilai hirarki yang tinggi. Hal tersebut tentu menuntut ketahanan fisik dan mental dari seorang calon prajurit.
“Pemeriksaan psikologi dapat melihat potensi dasar, kematangan emosi, dan kesiapan pribadi lainnya dari calon prajurit TNI Angkatan Laut.”
Dalam kesempatan tersebut selaku Pemateri Lettu ALMA yang saat ini bertugas di PUSPENERBAL memberikan ice breaking di tengah sesi untuk mengembalikan energi audiens yang mulai lelah atau mengantuk. Sebagai mantan atlet beladiri Shorinji Kempo dengan sabuk hitam, hal tersebut “Ice Breaking” adalah bagian rutin yang ditemuinya ketika menemukan kelelahan dan kejenuhan pada waktu melaksanakan TC (Training Center) saat menjadi Tim Atlet PON Kontingen DKI Jakarta 2016 yang didapat dari para Sensei dan Senpainya, ujar istri dari Kapten Kum Ichsan Ahmad Windardi S.H., M.H
dari TNI AU yang menjabat Kaurbankum Lanud Muljono dan Ibu dari seorang balita perempuan bernama Arselina Ghania Windardi yang memasuki usia tujuh bulan saat ini.

Pada akhirnya Wadan Puspenerbal menyampaikan penekanannya
“Jangan ada pelanggaran & berlomba membuat prestasi
Buat persaingan positif dan meningkatkan daya juang personil dalam profesi. (tim/red)
74 total views, 1 views today







